Tampilkan postingan dengan label aulia risma azzahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aulia risma azzahra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2019

Traveling Semarang

Senja di Sudut Semarang

Tugu muda 
Kala itu di sore yang cerah, kaki ini berpijak ditanah bukan kelahiran. Tanah di pulau Jawa ini menyimpan sejuta keragaman di Provinsi Jawa Tengah.
Semarang. Ya, wilayah yang tidak asing lagi didengar dan dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah.

Beberapa tempat yang saya kunjungi di Semarang memiliki kesan menarik untuk saya ulas, dan dalam tulisan ini, akan saya sampaikan beberapa kesan tak terlupakan dari Kota Semarang.

Senja, 9 Oktober 2019 menemani saya dalam perjalanan singkat menjelajah Kota Semarang. Berawal dari kawasan Semarang Utara, di Smart Budget Hotel saya mengistirahatkan badan sejenak.
Potret lingkungan dari lantai 2 smart budget hotel
Kamera yang saya bawa selalu standby mendampingi untuk memotret objek, mulai dari yang biasa saja hingga luar biasa. Ada pelajaran yang saya dapatkan dari fotografi. Sudut pandang luar biasa akan merubah sesuatu yang biasa saja . 
Burung dan kabel listrik (shot by canon eos 80D)
Langit senja dan siluet daun bambu


Entah sudah berapa mil jejak yang tertinggal. Ribuan kenangan menyertai setiap langkah kaki yang berjalan. Bayang semu yang mulai melukiskan kerinduan dengan seseorang diangan-angan.

Semarang. Kisahmu terlalu panjang untuk ku tuliskan. Hanya potret disetiap sudut kotamu yang mampu ku pamerkan. Dan disinilah kebahagiaan baru mulai singgah dan ikut mewarnai perjalanan singkat.


Kamis, 12 September 2019

Kwarcab Rembang Berhasil Sabet 3 Juara Dalam Kegiatan Pertihusada Daerah Kwarda Jateng 2019

Peserta Pertihusada VI Kwarda Jateng Kontingen Kwarcab Rembang 
(13/9/2019) Kontingen Kwartir Cabang Rembang berpartisipasi dalam kegiatan Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada (PERTIHUSADA) ke - VI Tahun 2019 Kwartir Daerah Jawa Tengah berhasil menjuarai 3 kegiatan.

Kontingen Kwarcab Rembang usai upacara penutupan kegiatan dan pengumuman hasil kejuaraan
Kegiatan Pertihusada Daerah yang dilaksanakan pada tanggal 9 - 13 September 2019 ini diikuti oleh 35 kwartir cabang se- Jawa Tengah. Salah satunya adalah Kwartir Cabang Rembang yang ikut meramaikan kegiatan ini dan berhasil memboyong 3 piala diantaranya;Juara 1 Giat Safari Krida
Juara 2 Giat Lomba Desain Poster Manual
Juara 2 Giat Lomba Merangkai Buah.
Juara 2 Lomba Desain Poster, Juara 1 Giat Safari Krida, Juara 2 Lomba Merangkai Buah (keterangan gambar dari kiri)
Kegiatan yang diselenggarakan di  Bumi Perkemahan Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas ini merupakan kegiatan yang diadakan oleh Kwartir Daerah setiap 5 tahun sekali. 
Potret Kontingen Kwarcab Rembang dalam kegiatan Parade Budaya
Pertihusada daerah yang diselenggarakan oleh kwartir daerah Jawa tengah merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Dan pada tahun ini adalah penyelenggaraan ke VI kegiatan Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada Tingkat Kwartir Daerah Jawa Tengah.
Dalam pelaksanaan kali ini,Kontingen  Kwartir Cabang Rembang berhasil mengharumkan nama Kwartir Cabang Rembang dengan prestasi yang diraihnya. Sesuai dengan harapan Ketua Kwartir Cabang Rembang, Kak H. Bayu Andrianto, SE pada saat upacara pelepasan kontingen yang diselenggarakan pekan lalu.









Sumber foto : Kontingen Kwartir Cabang Rembang

Selasa, 10 September 2019

Legen Ternyata Bahan Baku Pembuatan

Legen Sebagai Bahan Baku Pembuatan Gula Merah


Petani Legen yang memanen hasil
Meskipun legen memiliki rasa asam, tapi jangan salah sangka kalau minuman satu ini bisa dibuat jadi Gula Merah loh. Dengan proses yang tepat, legen bisa diubah menjadi gula merah dengan cara direbus hingga sedikit mengental.

Lihat juga : Bumbung Nira Pohon Lontar

perlatan sederhana yang digunakan untuk merebus legen


Perubahan warna yang awalnya putih menjadi coklat menjadi penanda kalau legen sudah siap dicetak. Hasil dari perebusan legen menghasilkan cairan gula merah. Proses perebusan ini masih menggunakan alat yang sederhana dan tradisional. Bisa dilihat tungku perebus legen yang terbuat dari tanah liat disamping. Pengaduk legen juga terbuat dari pelepah dauh lontar yang dibentuk seperti di gambar.


Kerek lontar, cetakan Gula Merah

Selanjutnya adalah pencetakan. Cetakan yang digunakan adalah daun lontar yang dilingkarkan seperti sabuk. Cetakan ini disebut Kerek.

baca juga : Kerek Lontar Cetakan Gula Merah
beberapa kerek yang ditata dan siap untuk digunakan
Pencetakannya sendiri cukup mudah, legen yang sudah menjadi cairan gula diambil sedikit  dari panci menggunakan mangkok dari batok kelapa.

proses pencetakan gula merah
Pertama, tuangkan sedikit cairan gula merah dan tunggu hingga sedikit mengeras. Setelah mengeras, selanjutnya penuhi sesuai dengan cetakan, Berikut video pembuatan gula merahnya. 123



Setelah itu, tunggu sekitar setengah jam agar gula merah menjadi gula siap jual maupun konsumsi.
Gula Merah ini dijual sekitar 15-23 ribu rupiah per kilonya. Namun, karena peminat dari legen yang banyak, jarang ada produsen Gula Merah dari legen. 

kunjungi : Ternyata Rembang Produsen Hasil Lontar

bersama 3 rekan saya berfoto dengan produsen gula merah, Ibu Yasmi
Fotografer : M. Satrio Pratama, M. Syukur Ali Ma'ruf
Pembimbing : Bapak Suhadi, M.Pd, Bapak Ma'rufin

Minggu, 08 September 2019

Explore Kebun Siwalan di Kabupaten Rembang

Eksplorasi Kebun Siwalan dan Legen


(3/9/2019) pagi ini saya mencoba mengeksplorasi kebun siwalan yang ada di Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Tepatnya di Desa Pranti, sentra siwalan dan legen yang ada di Kabupaten Rembang. Bersama 3 teman, dan 2 pembimbing saya memulai eksplorasi. Berangkat jam 08.00 WIB dari sekolah saya, SMA Negeri 1 Pamotan ke Desa Pranti, Kecamatan Sulang. Setengah jam perjalanan kami tempuh dengan mengendarai mobil. Dan sesampainya di lokasi, kami disambut hangat oleh pemilik kebun yaitu Bapak Sumadi (49 tahun).
foto bersama Bapak Sumadi dan adik-adik warga Desa Pranti

rentetan pohon siwalan yang tumbuh di kebun Bapak Sumadi
Kebun siwalan yang memiliki luas puluhan hektar itu menjadi mata pencaharian Pak Sumadi. Pohon Siwalan atau yang terkenal dengan sebutan pohon lontar ini memiliki filosofi yang unik. Menurut cerita dari Bapak Sumadi, pohon Siwalan ini merupakan gambaran dari perasaan pemiliknya. Bisa diketahui lebih jelas apabila saat panen, hasil yang didapat akan melimpah dan kualitasnya bagus apabila si pemilik merasa bahagia dan tentram.
Buah Siwalan Hasil Panen langsung


Buah Siwalalan memiliki bentuk yang unik, rasanya yang manis dan berair, dan juga tekstur dari buahnya yang kenyal membuat semua yang menikmatinya merasa ketagihan.
Meskipun terkenal dengan sebutan pohon Siwalan, pohon ini juga menghasilkan menghasilkan air nira yang disebut Legen.
Tapi, tidak semua pohon bisa menghasilkan legen. Saat musim panen, petani bisa  2 kali panen dalam sehari.
Bumbung Legen yang digunakan untuk menampung legen dari pohonnya
Legen memiliki rasa manis dengan sedikit asam dan mengandung soda didalamnya. Ada beberapa kasus penjual legen yang mencampur produknya dengan pemanis agar rasa asamnya berkurang, tapi tenang saja masih banyak yang menjual legen  versi originalnya kok. Legen mudah diketahui versi original dengan versi campurannya. Untuk yang original Warnanya putih sedikit kekuningan alias buthek kalo orang Rembang menyebutnya. Rasanya asam bersoda, dan apabila di buka dari botol, akan berbunyi cesss seperti minuman soda yang dibuka. Sedangkan yang sudah dicampuri pemanis, warnanya putih bening (seperti tanpa kaca wkwk:v just kidding) rasa asamnya tidak begitu terasa, dan kandungan soda di dalamnya juga berkurang.

Baca juga : Bumbung Nira Pohon Lontar 

legen murni tanpa campuran
Dalam ilmu medis legen mampu menetralisir maag, selain itu bisa dijadikan bahan pembuatan gula merah juga.

Penulis : Aulia Risma Azzahra
Fotografer : M. Satrio Pratama